CERPEN : Hitam Putih Kota Jakarta (I)

Hay kawan semua, kali ini saya akan menceritakan salah satu kisah saya ketika tinggal di kota Jakarta dalam bentuk beberapa cerpen yang bertajuk “Hitam Putih Kota Jakarta”. Ini adalah cerpen pertama yang saya posting di blog ini. Semoga kawan-kawan semua bisa mengambil manfaatnya. Maaf kalau ada beberapa kata atau pun kalimat yang kurang di pahami pembaca semua. Oke, silahkan membaca. 🙂

SANG PUITISI JALANAN
Oleh : Bekti Sarabanu

  Sabtu sore yang cerah. Seperti biasa aku pulang dari kantor dengan berjalan kaki. Menyelusuri jalan di gang-gang yang sempit. Sambil sesekali aku menutup hidung, ketika melewati selokan-selokan yang kotor dan penuh sampah. Sudah setengah tahun aku berada di Ibu Kota ini. Dan nampaknya sekarang sudah mulai akrab dengan hiruk pikuk kota Jakarta, yang katanya si kota yang banyak di gadang-gadang untuk mencari kerja dengan gaji yang tinggi. Tapi pada kenyataannya nggak juga. Susah cari pekerjaan di Jakarta, apalagi masuk perusahaan yang besar. Kalau tidak ada orang dalamnya, sangat jarang bisa di terima. Sungguh tak adil memang, tapi begitulah kehidupan di Ibu Kota ini.

Terasa makin terik saja sinar matahari sore ini. Tapi aku sudah dekat dengan tujuan. Tinggal beberapa langkah lagi di ujung gang ini, sampailah aku di tempat kost. Hemmm, akhirnya sampai juga. Perlahan tanganku mencari-cari kunci gembok di dalam saku celana. Kemudian dengan perlahan aku membuka gemboknya dan masuk kedalam kamar. Tak begitu besar kamar kost ku, tapi cukuplah untuk di tinggali dua orang dengan kakakku.

Aku mulai merebahkan tubuh di kasur, sambil mengambil remot di sampingku dan menyalakan TV, melepaskan lelah setelah seharian bekerja. Tak lama kemudian terdengar suara ada yang mengetuk pintu.
“Siapa?” tanyaku.
“Aku,” suara kakakku menjawab dari luar.

Dengan langkah yang bermalas-malasan aku membuka pintu kamar. Terlihat Olid nama kakakku, datang bersama Riyo temannya, sambil membawa barang entah apa yang baru saja mereka beli. Kemudian mereka masuk dan Olid menaruh barang tersebut di pojokan kamar. “Yah serasa semakin sempit saja ini kamar,” batinku.

“Bekti, kamu udah beli makan belum?” tanya kakak padaku.
“Belumlah. Baru aja aku tiduran sebentar, baru pulang kantor,” jawabku.

“Yaudah beli makan dulu sana! Motornya aku parkir di depan tadi,” perintah kakakku.

Kembali dengan malas aku berdiri. “Mau beli apa?” tanyaku kembali.

“Apa ya?’’ pikir kakakku bingung, “kamu mau makan apa yo?”

“Aku titip itu aja, Ayam balado sama es teh manis.” jawab Riyo.

“Yaudah aku Ayam goreng deh, tapi dada yang garing ya,” sambil memberikan selembar uang lima puluh ribuan padaku. “Nih uangnya, kamu mau beli apa nanti terserah. Di tempat biasa ya belinya,” perintah kakakku kembali.

Nggih Mas,” jawabku sambil tersenyum.”Kontak motornya mana?” tanyaku lagi.

“Oh ya, ini,” sambil mengambil kontak dan memberikannya padaku.

Kemudian aku keluar, berjalan ke tempat motor di parkir. Masih panas aja nih hari, padahal udah jam setengah lima. Benar-benar terang sore Sabtu ini. Perlahan aku nyalakan motor matic milikku dan melaju ketempat aku biasa membeli makanan. Dalam perjalanan masih terlihat ramai anak-anak remaja tanggung thongkrongan di pinggir jalan, sambil ngobrol-ngobrol asik menikmati terangnya sore ini. Aku masih melaju, sampai di sebelah sebuah Rumah Sakit, aku berhenti sejenak, menunggu sebuah mobil yang sedang menyeberang dari arah Rumah Sakit tersebut. Setelah itu aku melaju kembali dan sampailah di rumah makan tempat biasa aku serta kakakku membeli makanan. Aku parkirkan motor di depan rumah makan tersebut. Kemudian aku masuk dan mulai memesan makanan pada seorang pelayan.

“Mas, saya pesan Ayam balado satu, Ayam goreng dua, Ayamnya yang dada semua ya, yang garing juga nggorengnya. Di bungkus dan pake nasi semua ya mas. Oh ya, sama es teh manisnya satu,” pesanku dengan cerewet pada pelayan rumah makan tersebut.

“Oke mas. Ada lagi?” jawab pelayan tersebut dengan tersenyum.

“Udah itu aja,” jawabku.

Kemudian sambil menunggu, aku duduk di salah satu kursi dalam rumah makan tersebut dengan pura-pura memainkan HP agar terlihat tidak bengong duduk sendirian. Sebenarnya terlihat ramai juga si sore ini rumah makannya. Dan aku tahu, kalau lagi ramai gini pasti nunggu pesanannya akan lama. “Hugh, menyebalkan.!” Umpatku dalam hati.

Sedang jenuh menunggu, tiba-tiba ada seorang lelaki paruh baya dengan pakaian yang lusuh, mencangklong tas hitam yang warnanya sudah pudar, dan membawa buku jelek, masuk kedalam rumah makan ini. Awalnya aku kira dia pengemis yang mau meminta-minta. Tapi ternyata dia hanya berdiri di depan para pelanggan rumah makan, dan dengan lantang dia menyapa kami semua, “Selamat Sore.!”. Kami yang berada dalam rumah makan tersebut tidak langsung kompak menjawabnya. Ada yang terlihat bingung, ada yang cuek, dan ada juga yang dengan tidak bersemangat menjawab,”selamat sore juga.” Kemudian lelaki paruh baya tersebut tanpa basa-basi melanjutkan ucapannya, “Puisi dengan judul Negeri yang Seperti Merdeka, saya persembahkan buat negeri yang harusnya kaya raya ini.!”

“Haduduh, apa-apaan si orang ini,” batinku semakin tak mengerti. Biasanya orang kalau mau ngemis kan tinggal minta aja, atau kalau mau ngamen kan langsung to the point nyanyi. Ataukah ini cara baru orang mencari uang dengan berpuisi? Aku semakin tak mengerti, mungkin karena aku baru enam bulan di Jakarta, jadi baru tahu ada fenomena seperti ini.

Lelaki paruh baya itu kemudian melanjutkan membaca puisinya,

 

Negeri ini seperti bukan milik kami

Ketika kami masih meminta belas kasih

Bukan lagi merdeka!

Tapi negeriku masih seperti merdeka

 

Aku tertegun mandengarkan puisi si pengemis ini. Memang benar juga si negeri ini masih seperti merdeka alias belum benar-benar merdeka, karena masih banyak yang terjajah ekonominya. Kemudian aku kembali mendengarkannya, walaupun kadang terdengar sayup-sayup suaranya, terkalahkan ramainya pengunjung rumah makan.

 

Pernah berpikir mati

Tapi kami ingin hidup

Lalu ketika kami masih hidup

Jalanan ini seperti mencekik kami

 

Merasa terenyuh aku mendengarnya. Betapa kerasnya mereka bertahan untuk kehidupan ini. Bahkan di tengah-tengah gemerlap Ibu Kota yang memiliki omset triliunan tiap tahun, mereka masih saja menderita. Pantas saja banyak orang memaki anggota pemerintahan yang korupsi. “Bagus juga puisi orang ini,” batinku dalam hati. Lalu perlahan aku membuka HP dan mulai mencatat kata-kata yang menyentuh dari puisi tersebut, karena mungkin bisa jadi nasehat yang berarti nantinya. Yah meskipun banyak kata yang kurang aku mengerti juga si artinya, mungkin karena aku bukan seorang penyair kali ya.

Kembali aku mendengarkan puisinya. Kali ini terlihat bola matanya mulai berlinang air mata, seperti sangat menghayati puisi yang ia ciptakan sendiri.

 

Negeri ini masih seperti merdeka

Di balik fatamorgana yang melenakan pejabat

Akan harta kami yang dirampas

Dengan senyum mereka yang beringas

 

Aku masih mencatat, dan mulai mencoba memahami arti dari puisi yang di sampaikan lelaki itu. Terasa lama aku mendengarkannya. Hingga suaranya semakin terdengar lirih. Aku mulai memperhatikan sekitar. Terlihat juga ada beberapa pelanggan yang mendengarkan puisinya, mata mereka berair. Dan bahkan ada yang meneteskan air matanya. Lalu di akhir puisinya ia berkata,

“Apakah aku akan mati sebelum datang kebahagiaan?”

Masya Allah sungguh semakin sedih hati ini, mendengarnya. Betapa keras hidup yang lelaki itu jalani, itu bisa di simpulkan dari puisi yang dia bacakan atau lebih tepatnya di sampaikan tadi. Dalam suasana terharu itu, tiba-tiba aku di kagetkan oleh pelayan rumah makan, yang sampai tidak saya sadari datangnya. “Mas, ini pesanannya udah selesai,” kata pelayan tersebut.

Dengan kaget aku menjawab, “Oh ya terimakasih, berapa mas?”

“Empat puluh lima ribu mas,” jawab pelayan tersebut.

“Ya sebentar, ini uangnya,” kataku sambil menyodorkan uang lima puluh ribu.

“Terimakasih, tunggu sebentar saya ambil kembaliannya dulu,” kata pelayan itu lagi.

Aku hanya mengangguk mengiyakan. Sambil menunggu uang kembalian, aku mendekati Lelaki paruh baya tadi, yang sedang meminta uang pada pelanggan lain karena sudah selesai membacakan puisi tadi. Aku mencari uang sepuluh ribu dalam kantong celanaku dan memberikan padanya. Dengan senyum bahagia, Lelaki yang seperti pengemis itu berkata, “Terimakasih mas, semoga rejekinya tambah banyak.”

Aku membalas senyumnya dan berkata,”Amiiin, terimakasih.”

Kemudian aku menghampiri pelayan yang akan memberikan uang kembalian tadi. “Ini mas kembaliannya,” kata pelayan itu padaku.

“Oh iya,” jawabku singkat. Tadinya uang kembalian itu akan aku kasihkan kembali pada Lelaki yang berpuisi tadi. Tapi ketika ku cari, nampaknya dia telah pergi.

Aku keluar dari rumah makan tersebut. Hari sudah hampir gelap, menjelang maghrib. Aku semakin bergegas berjalan ketempat parkir motorku tadi. Pasti bakalan di marahin kakak nih karena lama banget beli makannya. Ah bodoh amat, setidaknya hari ini aku belajar dari seorang pengemis, eh bukan pengemis tapi Lelaki yang seperti pengemis tepatnya. Yang mengajarkan betapa beruntungnya aku, tidak merasakan penderitaan besar seperti mereka yang hidup di jalanan kota Metropolitan ini.

Motor sudah ku nyalakan. Segera aku melaju dengan cepat. Tapi baru beberapa meter aku melaju, aku di kagetkan dengan suara tlakson mobil yang keras dan praaaakkk!!! terdengar tidak jauh dari lokasiku. Dengan cepat banyak orang berkerumun menuju ke tempat kejadian. Aku tak kalah ingin tahu, segera saja aku parkirkan motor di pinggir jalan, dan ikut lari melihatnya. Tanganku mulai mencoba menyingkirkan beberapa orang dalam kerumunan agar aku bisa melihat siapa orang yang tertabrak mobil tadi. Sekilas aku melihat orang tersebut, dan deg jantungku mendadak berdebar dengan kencang. Terlihat korban itu masih menggenggam buku jelek di tangan kanannya dan uang sepuluh ribu di tangan kiri. Tak kusangka, orang itu adalah Lelaki paruh baya yang berpuisi tadi. Jantungku semakin tak beraturan berdetak, ketika melihat banyak darah bercucuran keluar dari kepalanya. Banyak orang yang terlihat iba dan bertanya-tanya adakah yang mengenal orang ini? Beberapa orang dari mereka kemudian mengangkat Lelaki tersebut, dan membawa kerumah sakit yang saya lewati waktu berangkat tadi. Untung lokasi Rumah sakitnya dekat. Tapi setelah itu aku tak tahu bagaimana nasib Lelaki paruh baya tersebut. Mendadak ku teringat kata-kata terakhirnya ketika berpuisi tadi, “Apakah aku akan mati sebelum datang kebahagiaan?” Oh Ya Allah, semoga dia selamat. Agar dia bisa di beri kesempatan satu kali saja untuk merasakan kebahagiaan hidup di negeri yang katanya kaya raya ini.

Aku kembali ke tempat aku memarkirkan motor tadi. Sungguh masih tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Akan ku ingat selalu hari ini Sabtu 15 Maret 2014. Awal aku mengerti, betapa beruntungnya aku, masih bisa bertahan hidup di tengah kota yang kejam ini. Kemudian aku melaju, dengan perasaan yang masih tak tenang.

 

SELESAI

Pembaca yang baik selalu meninggalkan LIKE dan KOMENTAR. Jangan lupa tinggalkan jejak teman-teman semua di BUKU TAMU ya. Terimakasih telah berkunjung. 🙂

 

Posted on 2 April 2014, in Cerpen and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 8 Komentar.

  1. cerpenya bagus,,,,,
    tpi cerita seperti diatas sering muncul, tapi bagus kok,,,,
    bahasanya juga gaul,,,
    buat lagi yah mas… tentang hitam putih jakartanya??

  2. iya makasih masukannya…
    di tunggu aja, besok2 pasti ada kisah yg lebih seru deh… hehew 🙂

  3. ship okey….. 😀

  4. indah_dewistyanti

    wiih keren, posting yg lebih menarik lagi…
    “tamba ngantuk”

  5. hehehe… makasih… 🙂
    besok2 posting lagi deh yg lebih cethar membahana… hahaha.

    thank’s ya udah berkunjung ke blog sederhana ku ini… 😀

  6. bingung jadinya mau ke jkt atau menetap di riau:(

  7. Kalau ada saudara yang baik dan tujuan yg jelas, ke Jakarta ngga apa2. Tapi kalau sendirian, belum jelas mau kerja atau nglamar kerja di mana, mending jangan dulu deh. Percuma habis2in duit doang. Bukan nakut2in si, terserah kamu aja.

    Oh ya, thank’s ya kunjungannya. 🙂

Silahkan tulis komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: